Hidup adalah sebuah perjuangan dan tanpa perjuangan tidak tercapai apa yang menjadi cita-cita.
Saya hidup disuatu tempat yang jauh dari perkotaan dengan 3 (tiga) saudara dan orang tua dengan latar belakang pendidikan atau pekerjaan sebagai guru/pendidik.
Di era tahun 70 an saya merasakan kehidupan yang sangat sulit meskipun orang tua punya penghasilan yang mungkin melebihi orang lain disekitar. Tapi ini sangat saya rasakan karena setiap orang tua pulang dari tugas tetap saja mengajak kami 4 bersaudara untuk ke kebun/sawah dengan maksud membantu mengangkat hasil sawah berupa sayur-sayuran. Kemudian yang juga tidak hilang dari ingatan saya hasil yang kami angkut dari sawah harus dijual pada besok harinya sehingga ada uang untuk ke sekolah. Tetapi pagi-pagi benar saya harus menjual kue keliling desa sebelum orang tua atau saya pergi ke sekolah. Dan hasilnya cukup untuk transport orang tua dan jajan saya ke sekolah. Ini perjalanan hidup semasa saya ada di Sekolah Dasar.
Tahun 1983 saya masuk pada Sekolah Menengah Pertama dimana tempat ayahku mengajar. Disekolah ini saya dibentuk dan dididik dengan harapan saya ingin menjadi seorang Evanglish nanti. Waktu berjalan sebagaimana kehidupan sejak SD itupun masih kualami sampai SMP. Sepulang sekolah tetap saja orang tua mengajak ke sawah untuk bekerja dan saya merasakan waktuku untuk bermain dengan teman-teman sangat terbatas. Tetapi tanpa saya sadar bahwa ini adalah cara orang tua membentuk saya untuk satu saat bisa hidup mandiri tanpa tergantung pada orang lain. Ini perjalanan hidup selama aku di SMP dan Lulus tahun 1986.
Tahun 1986 saya berpikir untuk masuk SMA mengingat cita-citaku nanti selesainya masuk pendidikan sebagai mahasiswa Theologi.
Apa yang terjadi pada tahun itu orang tua mengajak saya untuk ke Kota Manado dengan membawa Ijazah SMP. Saya tanyakan untuk apa? Ibuku hanya mengatakan ada sekolah kesehatan yang setelah lulus cepat untuk mendapat pekerjaan. Kalau mau jadi guru tidak usah karena jadi guru sulit jangan ikuti jejak orang tua lebih baik jadi perawat. Sebagai anak tentu saya mengikuti tetapi membayangkan bagaimana sekolah kesehatan itu.
Tahun 1986 saya diterima masuk SPRG, dengan umur yang masih remaja orang tua mencarikan tempat tinggal yang layak dalam hal ini koskosan. Dan pikiranku karena masih terlalu muda saya merasa jauh dari orang tua sehingga sering mengalami sakit di tempat tinggal dan kadang harus pulang di desa. Tetapi pihak pendidikan selalu memberikan teguran karena sering tidak masuk sekolah akan ketinggalan dalam belajar. Sebenarnya awalnya tentu saya tidak ingin dengan SPRG.
Seiring dengan berjalannya waktu saya melihat semangat dari orang tua agar saya berhasil membuatku melupakan apa yang menjadi cita-cita sebelumnya., dengan semangat belajar, Praktek sambil mencari pasien saya tertantang bahwa saya harus berhasil sehingga dengan harapan bisa cepat membantu saudara saudara juga yang masih studi dan pada akhirnya tahun 1989 saya lulus dan diwisuda dengan prestasi yang cukup memuaskan didampingi orang tua




